Halo, saya Eko — pendiri Remote Worker Indonesia, salam kenal!
Saya belajar pemrograman sejak tahun 1994 —SMP V Denpasar, Kelas 2— dan akhirnya bekerja remote sejak tahun 2011. Namun di tahun 2012-2013 saya merasakan beratnya kerja di Jakarta sebagai konsultan FAO, PBB dengan duty station Kementerian Kehutanan. Pengalaman itu membuat saya akhirnya bertahap membantu mentoring banyak dari kalian untuk bekerja remote dan membangun karier dari mana saja. Cita-cita saya sederhana saja: “Bagaimana caranya banyak dari kalian merasakan nikmatnya kerja dari rumah, dekat dengan anak istri dan mudaah menjaga sholat berjamaah lima waktu tepat pada waktunya”.
Namun sebagaimana yang kalian sudah ketahui: perjalanan itu ternyata mendaki dan curam!
Di bagian ini kalian akan mendapat penjelasan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dan upaya terbaik saya dalam menuntaskannya.
Selamat datang di RWID .. Returns!
RWID tidak sempurna. Perusahaan ini punya banyak kekurangan. Sebagai contoh, tentu tidak semua mentee bisa menembus remote work. Mereka yang bersemangat di awal, terkadang hanya join dan kemudian .. menghilang. Bertahun-tahun. Namun akhirnya kembali, karena di RWID ada jaminan life time mentoring.
Ada juga yang benar-benar berhasil menembus remote work setelah bertahun-tahun menghilang itu. Hehe. Alhamdulillah. Seneng rasanya.
Kadang ada kalanya juga 1-2 kelas tidak cepat terisi mentor karena satu dan lain hal. Tapi ini kasus yang jarang. Juga, terkadang gaji telat beberapa hari: namun bisa cepat tercover dalam waktu tidak lebih dari 1 minggu, dan saya akan selalu memberikan kompensasi keterlambatan. Saya senang kalau bisa menambahkan gaji.
Hanya saja, kelas pertama yang missing mentor paling lama sehingga kelas tersebut terbengkalai adalah kelas Data Science. Padahal kelas ini diampu oleh mentor yang sangat handal! Mentee juga puas. Nothing wrong with this class. This is the best class!
Namun kenapa kemudian kelasnya berhenti?
Saya bukan pemimpin yang punya ketegasan jika pengambilan kesimpulannya akan mencederai salah satu bawahan. Saya tidak tega. Saya akan lebih memilih membiarkan masalah itu atau membiarkan orang lain saja yang mengambil keputusan: yang adalah suatu kesalahan. Karena adalah memang tanggung jawab pemimpin untuk mengambil keputusan yang tidak selamanya bisa menyenangkan semua pihak.
Di satu waktu, ada mentor yang mengajukan diri untuk mengaudit gaji mentor-mentor lain dan dari hasil kesimpulannya, mentor Data Science dan Cyber Security gajinya terlalu tinggi. Dispute. Maka salah satu usulannya adalah mentor tersebut diganti.
Dan inilah kelas yang diviralkan karena mentornya kosong.
RWID tidak muncul karena business plan. Dia .. ngalir begitu saja. Saya justru baru menyadari RWID besar karena viralnya di 2025 kemarin. Sebelum itu, saya tidak pernah menilai hal tersebut.
Sehingga dengan jumlah member yang sudah menembus ribuan (3k-5k?), RWID yang tanpa platform membuat manajemen menjadi sangat-sangat kepayahan. Sederhananya, saya tidak punya dashboard untuk pengambilan keputusan dengan melihat:
Menyadari itu semua, maka di penghujung 2024, saya berencana untuk secara serius mengembangkan platform baru. Diawali dengan tim, namun sambil jalan saya juga kembangkan satu modul sendiri karena saat itu era Vibe Coding mulai muncul dan saya tahu itu akan mengubah masa depan dunia!
Dan saya terlalu bersemangat!
“Gila, saya bisa merancang banyak sistem secara paralel dengan tanpa menyentuh kode sama sekali! Kalau gitu, mentoring saya hold dulu 2 minggu, sehingga setelah selesai, platform baru akan benar-benar jadi kunci pemecahan masalah RWID!”
Tidak terasa 2 minggu menjadi 2 bulan .. padahal bagi saya rasanya benar-benar baru 2 minggu.
Dan, yah, itulah awal RWID Viral dan semua terblow up dengan berbagai gosip liar.
Paling liar: rumah saya digerebek polisi dan diserbu mentee.
Catatan: secepatnya, mungkin paling cepat 2 minggu dari sekarang kita Senyum, Sapa dan Salam di Villa RWID ya. Daripada via online cuman bisa Fork atau Merge Request ke repo RWID atau pakai CAPSLOCK di social media .. kan ya lebih seru makan-makan gudeg dan cibang-cibung di kolam renang pribadi disana 🥰
Kalau mau nginep sekeluarga juga boleh.
Saya harus jujur: saya anti IPO.
Menurut saya —dan saya keukeuh disini— IPO adalah cara founder melempar risiko ke masyarakat tanpa dikenai tuntutan hukum. Valuasi naik, meski revenue tidak mendukung, lempar ke pasar saham .. cuan! Setelah itu para investor retail ya tidak punya kekuatan hukum apapun untuk menuntut founder. Harta IPO sudah sah secara hukum menjadi milik investor awal.
Saya pernah di-approach untuk IPO, namun saya tolak. Padahal kalau dipikir-pikir, andai saya terima IPO, terus ada kejadian seperti ini .. secara hukum saya boleh jadi aman ya. Cuman pertanyaannya adalah: lha terus yang bertanggung jawab mengembalikan modal investor siapa? Itu alasan saya menolak IPO.
Memikirkan itu, saya terinspirasi satu akad syariah yang belum banyak diexplore di dunia pemodalan: Bai As-Salam / Forward Sale. Basically, membeli barang yang pengirimannya nanti di masa depan. Dan itu saya kombinasikan dengan konsep murabahah: yaitu pembeli A membeli komoditas dalam harga murah dan menjualnya ke pembeli B dengan harga tinggi, dengan pengetahuan pembeli B tentang margin-nya. Kombinasi dua hal ini menjadi: beli barang di masa depan dengan harga murah karena jumlahnya banyak, dan setelah barang didapat, pembeli menjual kembali barang tersebut dengan harga lebih tinggi. Selisihnya profit.
Ini menarik sekali!
Karena untuk dapat profit, tidak perlu pump-up nilai komoditas dengan buat isu macem-macem dan setelah naik .. rug pull. Di sistem ini, profit didapat dari keberanian menanggung resiko jika setelah komoditas didapat, barang boleh jadi tidak laku. Tapi kalau laku… profit. Dan ini memang konsep investasi syariah: Al-Ghunm bi Al-Ghurm. Untung didapat dari keberanian menanggung risiko. Semua profit berasal dari transaksi komoditas nyata, bukan spekulasi profit.
Elegan kan? Saking senangnyaa saya melanjutkan ke Magister Ekonomi UII karena tertantang benar-benar menerapkannya di RWID. Dan konsep itu saya beri nama DCSI (Direct Commodity Short Investment).
DCSI ini saya kombinasikan dengan konsep lain yang juga saya susun untuk mengatasi pemodelan modern yang menurut saya eksploitatif, yaitu Gold Backed Syirkah/GBS (Kerjasama Usaha yang Dilandasi Emas). Konsepnya adalah: modal yang dihimpun tidak pernah boleh lebih besar dari emas yang dikandung.
Ironisnya, justru ini adalah rule pertama yang saya langgar: dana DCSI yang terhimpun, lebih besar dari emas yang terkandung. Saat itu saya memberikan reasoning,
That’s fine, asset lain seperti Villa, Harley dan lain-lain bisa dipakai sebagai backup. Asset tersebut pun justru bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar hedging. Selain itu profit investor saya naikkan tanpa mereka minta. Sale juga stabil. Everything seems to be in order right?
Saya lupa satu hal: asset-asset itu tidak liquid.
Dan tidak ada yang bisa menebak masa depan: prepare for the worst.
Terbukti setelah RWID Viral dan sale berhenti, Villa tersebut sampai sekarang masih belum terjual. Sedangkan emas antam yang sekitar 300gram dengan ringan kembali ke investor GBS, sedangkan investor DCSI masih harus berkutat mendampingi saya di RWID Returns
Note: tentu ada bedanya.
Nilai return investor DCSI jauh lebih besar dari GBS.
Okay, sebentar-sebentar: nama ekoin ini bukan karena saya seneng nempelin nama saya kemana-kemana. Kebetulan aja, konsep moneter yang saya sukai itu adalah ekonomi intrinsik. Yaitu suatu sistem ekonomi, dimana mata uangnya didasarkan pada real value/nilai intrinsik mata uang tersebut. Yes, ini yang menjadi fondasi dari GBS.
Btw kepikiran ga, kalau dua istilah ini terlalu maksa: Jokowinomics dan Prabowonomics? Coba kalau Ekonomics .. smooth yaks 😁
Anyway saya jadi kepikiran banget pingin cepat tuntasin Thesis saya. Kemarin itu sudah disuruh cepat selesaiin supaya bisa cepat wisuda. Tapi saya tetapkan, “Sebentar Pak, saya wajib terapkan DCSI di perusahaan saya dulu”.
Eladalah…
DCSI produknya adalah Mentoring Lifetime RWID yang Rp 2.5jt. Beli borongan, bisa dapat harga Rp 1.9jt, dijual Rp 2.5jt, profit per pcs Rp 600rb. Deal?
Pertanyaannya: kalau produknya ada yang harga dibawahnya itu atau kalau produknya beragam gimana? Kan yang dibeli tadi produk yang 2.5jt? Gimana cara terapin ke produk ebook yang cuman Rp 45rb all-in misalnya?
Nah saya mulai muter akal itu .. dan eureka!. Konsepnya seperti Web Services di awal tahun 2000. Loosely coupled. Istilah ini menggambarkan suatu hubungan antara dua entitas yang tidak erat tapi menentukan. Mereka tidak bisa dilepas, tapi juga masih bisa bebas bergerak.
Antara produk Mentoring Lifetime (atau apapun nantinya) dan uang investasi, saya memperkenalkan token yang saya beri nama Ekoin, singkatan dari Ekonomi Intrinsik.
Investor membeli ekoin tetap dalam konsep Bai As-Salam sebelumnya dan kemudian token ini benar-benar dipakai untuk melakukan aktivasi suatu produk, contoh Ecobook tentang Fundamental Programming with AI
Ecobook adalah jenis buku yang berada diantara PDF yang statis dan Zoom mentoring yang pasif. Saya berikan nama Ecobook karena nilai buku ini yang Economic.
Dan token ini benar-benar punya utilitas, contoh ini adalah token Ekoin real di platform RWID ini:
7b2270223a226272632d3230222c226f70223a226...
Token ini digenerate oleh OpenDCS/Digital Custody System —yang adalah protokol DCSI yang saya susun agar by system dia menolak investment baru jika emas yang dikandung lebih kecil dari sistem investasi—, dan tokennya benar-benar di-burn untuk dipakai dalam pembelian Ecobook.
Dengan pendekatan ini, maka token tidak lagi sekedar investasi berbasis supply and demand dengan virtual scarcity, namun memang benar-benar punya nilai intrinsik di dalam suatu sistem ekonomi.
Ekoin akan dipakai di RWID Returns.
1 = Rp 1.000
Jadi pembelian buku yang bernilai 50, maka itu setara dengan Rp. 50.000
Ingat sesuatu tentang angka ini ga? Yes, ini remunerasi Rupiah yang sepertinya masih di-undur-undur BI. Jadi jika diterapkan Rp 1.000 = Rp 1.
Selain itu dengan Ekoin saya juga jadi akan lebih mudah terapkan berbagai hal gamifikasi. Contoh: referral mendapatkan 20. Yang dapat diwithdraw lewat midtrans disbursement API setelah terjadi sale dari member referral itu.
Mungkin kamu bilang, “Terlalu ribet!”, iya kalau dijelaskan. Kalau diterapkan —karena sudah jadi sistemnnya—, ya seamless. Malah jadi enak: angka jadi ga kebanyakan 000. He he he
Silahkan claim 100 free dibawah ini, berlaku hanya 7 hari dari waktu pendaftaran akun ini!
Apakah semua yang saya paparkan di tab sebelumnya sudah menjadi produk?
YES. Absolutely yes!
ABSOFREAKINLUTELY YES!
Bahkan di hari terakhir sebelum RWID Viral, saya sudah sangat antusias karena platform yang saya kembangkan dengan susah payah dan minim tidur selama 2 bulan sebelumnya, sudah bisa menunjukkan terjadinya buy back dari Ekoin milik investor DCSI yang terjadi karena ada sale untuk mentoring Vibecoding 1 hari dari Pak Ganjar, Cirebon. Dan juga dari Pak Stephen, Semarang.
Tapi, shit happens.
Ya sudah, antusiasmenya dihold dulu.
Sampai kurang lebih 1 tahun kemudian, dimana tim kecil kami yang tersisa harus menggunakan sumber daya manusia yang ada untuk mengembangkan sistem yang kompleks. Apakah AI bisa membantu? Sure bisa. Tapi pengalaman dari 2025 membuktikan: keputusan teknologi yang salah akan membuat sistem hanya kelihatan works tapi ga secure, ga scalable dan ga production ready.
AI slop.
Itu termasuk yang terjadi di 2025 itu.
Dan saya jelas ga mau mengulangi itu lagi!
Nah, .. how the caranya?
Okay, gini: ada suatu keniscayaan dalam teknologi IT modern: docker. Udaah, itu ga bisa diganggu gugat lagi. Kalau mau buat aplikasi kaliber Tokopedia, lo wajib pakai Docker.
Cumaan, sebelum RWID Viral, MacBook Air M1 saya hadiahin ke Mentor, terus setelah itu cuman tersisa MacBook Pro 2015/2017(?) jadul yang benernya dipakai admin RWID. Mau beli M1 lagi? Gak kebayang.
Saya pernah coba sih sebentar pakai Docker: buset, kipasnya muter terus dan amat-sangat-panas. So, that’s a no go. Akhirnya saya mulai memikirkan bare essentials docker: provisioning, containerization, deployment and automatic load balancing, among other things.
Bertahap saya mulai bongkar mana yang sebenarnya kesalahan teknologi karena kebetulan di masa lalu manusia milihnya itu dan karena sudah terlanjur besar, orang-orang jadi gak kepikiran untuk rethinking apakah pilihannya bener atau salah.
Dan .. ternyata memang ada!
Hanya saja ini akan terlalu lama dan membutuhkan argumentasi paper serius. So, pembahasannya lain kali saja.
Kesimpulannya, produk dari riset tersebut adalah Ecosphere.
*“Lagi-lagi Eco?” .. ya mau gimana lagii. Kalau Eco yang sekarang maksudnya adalah Ecosystem dari LXS, yang adalah suatu Domain Driven Design Bounded Context yang dibuat menjadi seperti living organism dengan menjadikannya executable artifact dengan contract yang mudah dianalisa Agentic AI untuk dicompose menjadi estate lengkap, seperti yang kamu lihat di remoteworker.id ini
*“LXS?”, yes. Kepanjangan dari Linux Services, yang saya derived istilahnya dari LXC, Linux Container yang adalah thin wrap Linux Kernel. LXC diterapkan di Proxmox VE, yang adalah Linux yang khusus menangani LXC dan VM.
Dengan LXC, masalah virtualisasi docker terpecahkan. Dia membuat service —LXS— bisa berjalan dengan native speed! Tidak ada lagi layer virtualisasi yang amat boros energi.
Hanya saja, kalau sekedar itu, masih raw. Kurang jelas apa yang bisa dibangun. Namun dengan menggabungkan pemahaman LXC dan Bounded Context pada Domain Driven Design serta memahami instrumentasi dengan agentic AI (saya all in di OpenCode dan DeepSeek), sistem yang kompleks bisa dibuat dengan spik-spik seperti ini ke AI:
“@AGENTS.md saya ingin membuat aplikasi kasir untuk usaha katering saya. Coba usulkan LXS yang bisa dipakai dan build aplikasi katering dengan rekomendasimu, run dulu di local dengan eco up dev, jika works, langsung test via tunnel dengan eco serve dan jika lolos langsung deploy ke ecosphere dengan eco up —remote. Kebetulan saya mau Maulidan, kabari via telegram LXS lengkap dengan screenshot. Tapi make sure semua fitur works lho ya. Thanks Deep!”
AGENTS.md sudah diberikan knowledge tentang eco (CLI dari ecosphere) jadi dia akan langsung cek repository public registry LXS dan langsung compose estate tersebut. Sebenernya dia ga perlu dijelasin tentang eco up serve dan —remote. Saya sengaja tambahkan supaya jelas aja.
Oh ya, karena LXS ini binary ready to run, maka kita ga keluar biaya token lagi. Tetep ada biaya dari agentic AI untuk discovery dan assembly, tapi berdasarkan riset yang sudah saya lakukan, penghematan tokennya luar biasa: 40%-60%.
Dan penghematannya akan lebih terasa lagi jika domain yang dipakai terus menerus di-reuse. Coba: berapa kali kalian develop fitur/domain Login kalau buat aplikasi baru? Padahal yang namanya login (atau notifications, storage, articles, analytics etc), ya gitu-gitu aja kan? Boros token!
Saya terinspirasi docker-compose.yml dan ecosphere estate (istilah yang saya pakai untuk project) juga memiliki ecompose.yml yang snippetnya berikut ini:
project: kanban
main: kanban
description: "Kanban — a lightweight board app"
ct:
id: 201
data:
mongo: 203
estates:
kanban:
hostname: kanban.getecosphere.com
ingress: tunnel
cloudflare_account: getecosphere
services:
- gateway
- kanban-app
- auth-backend
- auth-ui
expose:
enabled: true
hostname: kanban.getecosphere.com
service: gateway
proxy_ct: 200
cloudflare_account: getecosphere
services:
gateway:
lxs: [email protected]
port: 4965
kanban-app:
path: backend
binary: kanban-app
port: 7195
runtimes: [rust, mongodb@7]
access:
routes:
- path: /
level: public
- path: /api/kanban
level: auth
- path: /api/kanban/*
level: auth
- path: /health
level: public
auth-backend:
lxs: [email protected]
port: 6265
config:
EMAIL_VERIFICATION_REQUIRED: "false"
SESSION_REQUIRED: "false"
“Apa artinya ini?”
Artinya, “Buckle your seat up Dorothy. ‘Cause Kansas, is going bye bye..”
Ga ding. Ga saya tinggal. Saya lanjutin jelasin.
Jadi gini:
Vibe Coder itu awalnya akan merasa amazed bahwa dia bisa generate result berupa web/app apa aja dengan kuenceng.
Cuman masalahnya app itu boleh jadi —mostly— hanya cute di tampilan. Tapi begitu dilempar di dunia nyata .. cuman bisa bertahan 1 jam. Langsung down atau diobrak-abrik databasenya. Dan itu yang terjadi di saya di tahun 2025 (jujur aja). Saat itu saya cepet-cepetan aja pakai Supabase, dan meski menurut teori API Key supabase-nya protected, tapi ternyata masih bisa dipakai untuk nge-akses table lain. Walhasil semua Stored Procedur RWID saat itu hilang. Catatan: gila apa ya, tahun 2025 masih pakai stored procedure. Satu konsep yang saya pegang setelah itu: Zero Trust. Jangan pernah percaya semua orang di internet kalau konteksnya adalah keamanan aplikasi. Cari terus celah-celah security, hardening dan pasang log/alert untuk pantau dan analisa post-mortem in case ada apa-apa.
Yang salah bukan Vibe Codernya: justru itu adalah suatu kemajuan yang amat sangat gila pesatnya. Bagi seorang pemula bisa menghasilkan platform yang bahkan bisa dimonetisasi .. amat-sangat-luar-biasa. Vibe Coder juga tidak perlu paham sintaksis. Namun Vibe Coder wajib paham arsitektur aplikasi/web yang dibangunnya. Agar bisa memilih teknologi terbaik yang bisa handal di production.
Pemilihan teknologi dan juga infrastruktur untuk production, bukanlah hal yang murah. Apalagi kalau backend sudah masuk ke pemilihan arsitektur. Kalau mau pakai selain Next.js, maka Vibe Coder wajib ngerogoh kocek lumayan dalem: apalagi in this economy. USD 20/bulan at least, di DigitalOcean (mungkin juga ada yang USD 5/bulan, tapi jelas ga feasible untuk kerja benaran).
Kalau pakai Next.js bisa free, namun ga punya pilihan lain selain Supabase (kesalahan saya kala itu) dan wajib deployed ke PaaS, salah satunya Vercel.
Nah terus solusinya gimana?
Enter E C O S P H E R E
To be continued di Ecobook Khusus tentang Ecosphere!
Stay tuned!
Setelah fundamental infrastructure untuk pembangunan berbagai macam platform terselesaikan, maka selanjutnya pertanyaan utama yang diajukan adalah ini:
Apa pentingnya ini untuk member, mentor dan investor RWID yang sudah menuntut hak-haknya setahunan ini?
Sejujurnya, awalnya saya tidak terbayang RWID akan saya hidupkan kembali secepat ini. Perkiraan saya masih … 6 bulan lagi. Itu pun masih mungkin. Yang terbayang sekedar men-generate revenue dari platform baru yang menyasar pangsa pasar Eropa, Amerika baru setelah itu masuk ke Asia. Karena itu server Ecosphere ini saya letakkan di Jerman.
Hanya saja, sekitar 3-4 mingguan yang lalu ada peristiwa yang mengubah perspektif saya: kami kedatangan 1 orang, yang mewakili 2 orang remaja lainnya yang ingin bergabung ke RWID. Kami tanya, “Sudah baca tentang RWID yang viral?”. Sudah, dan masih ingin join. Kami belum bisa iyakan saat itu. Namun bagi saya pribadi, itu jadi masukan pemikiran.
Maka tepat 4 hari lalu repository remoteworker ini saya buat dan bertahap saya craft dari awal untuk membangun creator economy yang baru.
Apa itu creator economy?
Kesalahan RWID sebelumnya adalah dia bukan creator economy. Dia perusahaan, yang me-manage mentor dan menggaji dari sale. Ini berat sekali, seperti yang sudah terbukti sebelumnya. Membuat sistem penggajian yang tidak ada yang iri-iri-an itu berat!
Karena itu di perusahaan manapun kita ga boleh bicarain gaji kan? Di 2025 kemarin saya dengan sengaja share daftar gaji! Ada yang ingin saya pahami tentang sifat manusia: dan, yaks, begitulah. Keluar semua sifat aslinya. Ye kan?
Belum lagi jika ada mentor yang tidak puas karena merasa seharusnya dia bisa dibayar lebih banyak kalau membuat platform learning sendiri. Dan seterusnya dan seterusnya.
Terus pertanyaan yang awal: apa itu creator economy?
Ringkas sekali kok: RWID hanya platform yang mempertemukan antara mentor dan mentee, dimana mentor bebas menawarkan kelasnya, bukunya atau layanan mentoring privatnya. RWID mempersiapkan channel dan pool user base: silahkan berjualan, nanti RWID cut untuk platform fee ya.
Apakah ini artinya RWID akan kembali mengadakan mentoring lagi?
Sejujurnya, saya tidak tahu juga. Saat ini lagi viral dan pasti … berat kan?
Saya ga tahu juga masih ada mentor yang mau berjibaku lagi di RWID atau ga.
Karena kalau iya, mereka akan kerja dengan pandangan sinis dari banyak netizen. Pengalaman saya: ga banyak yang kuat :)
Hm, in case ada yang ingin membantu saya menegakkan kembali RWID setelah jatuhnya, coba ke Start Menu (Avatar-mu yang di pojok kiri bawah), Settings, Mentoring. Disitu dirimu bisa sampaikan apakah bersedia membantu mentoring atau tidak. Mentor lama atau mentor baru: monggo. Detail cara Creator Economy di-implementasikan tentu akan menyusul. Saya akan excited banget mengembangkan platform ini! 🔥🔥🔥
Kalau dari sisi saya pribadi sih: ha iyes.
Saya akan mulai layanan mentoring. NAMUN, saya akan beri dasar materi mentoring via Ecobook dulu. Saya craft sedemikian rupa, sehingga seharusnya kamu ga butuh mentor deh kalau serius dipelajari.
Let see ya
Catatan: eh yang saya maksud saya memulai layanan mentoring itu bukan zoom lho ya. Dua hal yang ekstrim: Ecobook atau datang temui saya di rumah. Males saya zoom-an.
RWID Returns bukan berarti RWID petantang petenteng sok-sok-an kembali sok exist di dunia online. Bukan itu. Saya pun kalem aja tho?
RWID Returns makna utamanya adalah juga mengembalikan:
Hak dan Kewajiban Mentor berupa penggajian yang belum tertunaikan. Untuk kasus ini, mentor Data Science dan Cyber Security akan saya utamakan.
Hak dan Kewajiban Mentee berupa mentoring yang tertunda atau pengembalian dana. Saya cukup surprise juga karena banyak yang menjapri meminta mentoring dikembalikan. Hanya saja, saat itu saya tidak bisa menjawab: jangankan membayangkan memulai mentoring lagi, konsep LXS pun masih samar-samar nun jauh disana.
Hak dan Kewajiban Investor yang berupa buy back modal.
Memangnya uangnya ada?
Good question.
Canda dikit yaks! 🤭
Progress kita pantau bersama kok:
Saya akan buat beberapa modul monitoring dimana revenue dari sale akan terpetakan dan terdistribusi dengan baik
Sumber revenue akan berasal dari pasar Ecosphere, creator economy RWID dan juga sumber lain yang belum akan saya sebutkan sekarang.
Bagi mentor lama atau malah mentor baru yang merasa RWID punya nilai ekonomis, silakan nanti apply jika saya lihat demand mentoring RWID masih ada atau justru bertumbuh.
Seyakin apa Pak Eko semua ini bisa tuntas?
Haqqul Yaqin
Baiklah, amiiin.
Yes, manusia itu kalau menghadapi masalah ya cuman dua resepnya: sabar (dalam menuntaskan) dan sholat.
Apa lagi? 🙂
Maturnuwun!
Fun fact: sakjane saya ini lagi khuruj/dakwah 40 hari di daerah Ngluwar, Magelang. Cuman, alhamdulillahnya sekarang agentic coding membuat progress development bisa dipantau via Tailscale, Tmux dan ConnectBot serta telegram. Mac mini di rumah stay 24/7.
Jadi saya ngasih prompt via ChatGPT voice to text, kirim ke OpenCode dan dia ngerjain, dimana sudah saya setup jika ada progress, pertanyaan atau selesai kirim ke Telegram.
Maka setelah itu saya sekedar pantau telegram dan lanjut dakwah
What a time to be alive…
You will be returned to the sign-in screen.
Mereka yang menembus kerja remote — lengkap dengan bukti.
Ceritakan perjalananmu menembus kerja remote. Testimoni diperiksa otomatis sebelum tampil.